
Dua bulan lalu, saya pulang kampung, ke Jawa. Naik KA dari stasiun Gambir, pukul 06.15. Saya dapat tempat duduk berseberangan dengan dua anak laki-laki yang usianya beranjak remaja. Kelihatannya dua nank ini kakak-adik. Usianya kira-kira 12 tahun, adiknya sekitar 10 tahun. Dan ibu anak-anak tersebut, bersama anggota keluarga yang lain, duduk di kursi belakangnya.
Sejak saya duduk, dua anak tersebt sedang asyik memainkan gadget, tanpa peduli sekitarnya. Ibunya memanggilpun hanya dijawab: “hhmm...entar,” ...tanpa reaksi apa-apa, kecuali dia hanya memperhatikan layar gadgetnya dengan wajah serius. Sebentar terlihat tegang, kadang terlihat emosi, serta sedikit senyum. Rupanya mereka berdua sedang main game.
Lima jam kemudian saya nyampai tujuan, lalu turun. Tapi dua nanak ini masih asyik main gadget. Entah berapa jam anak-anak ini sudah memelototi gadgetnya. Mungkin saat duduk di KA, atau bahkan dari rumah, maupun sejak semalam. Entah berapa jam anak-anak ini memelototi gadgetnya. Tanpa disadari, bahwa emosi, pikiran (logika), dan fisiknya telah terkuras oleh pengaruh game yang ada di gadgetnya. Sementara sang ibu asyik-asyik saja ngobrol dengan kelompokk ibu lain, tanpa peduli anaknya sedang terhanyut di dunia yang susah dijangkau. Bahkan panggilannya yang tidak direspon dengan baik oleh anak-anaknya-pun, bagi si ibu gak masalah.
Itu secuplik gambaran bagi dua anak ABG yang terbius oleh kecanggiah gadget. Mungkin ada ribuan atau jutaan anak-anak seusia dia, bahkan ada yg balita sudah diperkenalkan dengan kotak tipis yang super canggih itu. Sinar, suara, warna, serta keindahan fitur dan aplikasi lainnya gadget itu sendiri yang menarik, dan mewah. Bagi anak-anak kota, dan pada umumnya dari orang tua yang secara ekonomi mapan. Smartphone, tablet, notebook dan aneka gadget lainnya juga sudah jamak digunakan anak-anak kita.
Bagi orang tua mungkin bermaksud mengenalkan teknologi gadget itu sejak dini kepada anak-anaknya. Tapi ada juga, orang tua yang sengaja memfasilitasi, agar anaknya tenggelam dalam keasyikan bergadget, agar orang tua lebih leluasa beraktivitas tanpa perlu terus-terusan mendampingi anaknya, terutama bagi orangtua2 yang super sibuk. Anak-anak yang senang bermain gadgetotomatis akan betah di rumah. Jika anak betah di rumah, orang tua akan lebih leluasa
Beresikokah?....
Banyak literatur yang mengungkapkan pemakaian gadget baru diperkenankan pada anak yang berusia 10-13 tahun. Ada juga yang memberi rekomendasi usia dibawahnya. Dr. Ahmad Suryawan pada website mutiara-hati.com mengatakan bahwa jika ingin memberikan gadget pada anak, sebaiknya orang tua melakukannya pada saat anak sudah berusia di atas 6 tahun, karena pada saat itu perkembangan anatomi otak anak sudah 95% dari otak dewasa.
Lima jam kemudian saya nyampai tujuan, lalu turun. Tapi dua nanak ini masih asyik main gadget. Entah berapa jam anak-anak ini sudah memelototi gadgetnya. Mungkin saat duduk di KA, atau bahkan dari rumah, maupun sejak semalam. Entah berapa jam anak-anak ini memelototi gadgetnya. Tanpa disadari, bahwa emosi, pikiran (logika), dan fisiknya telah terkuras oleh pengaruh game yang ada di gadgetnya. Sementara sang ibu asyik-asyik saja ngobrol dengan kelompokk ibu lain, tanpa peduli anaknya sedang terhanyut di dunia yang susah dijangkau. Bahkan panggilannya yang tidak direspon dengan baik oleh anak-anaknya-pun, bagi si ibu gak masalah.
Itu secuplik gambaran bagi dua anak ABG yang terbius oleh kecanggiah gadget. Mungkin ada ribuan atau jutaan anak-anak seusia dia, bahkan ada yg balita sudah diperkenalkan dengan kotak tipis yang super canggih itu. Sinar, suara, warna, serta keindahan fitur dan aplikasi lainnya gadget itu sendiri yang menarik, dan mewah. Bagi anak-anak kota, dan pada umumnya dari orang tua yang secara ekonomi mapan. Smartphone, tablet, notebook dan aneka gadget lainnya juga sudah jamak digunakan anak-anak kita.
Bagi orang tua mungkin bermaksud mengenalkan teknologi gadget itu sejak dini kepada anak-anaknya. Tapi ada juga, orang tua yang sengaja memfasilitasi, agar anaknya tenggelam dalam keasyikan bergadget, agar orang tua lebih leluasa beraktivitas tanpa perlu terus-terusan mendampingi anaknya, terutama bagi orangtua2 yang super sibuk. Anak-anak yang senang bermain gadgetotomatis akan betah di rumah. Jika anak betah di rumah, orang tua akan lebih leluasa
Beresikokah?....
Banyak literatur yang mengungkapkan pemakaian gadget baru diperkenankan pada anak yang berusia 10-13 tahun. Ada juga yang memberi rekomendasi usia dibawahnya. Dr. Ahmad Suryawan pada website mutiara-hati.com mengatakan bahwa jika ingin memberikan gadget pada anak, sebaiknya orang tua melakukannya pada saat anak sudah berusia di atas 6 tahun, karena pada saat itu perkembangan anatomi otak anak sudah 95% dari otak dewasa.
Berikut rangkuman beberapa bahaya gadget pada anak-anak:
Yang utama, resiko dari radiasi elektromagnetik. Seperti kita ketahui, setiap gadget memiliki paparan elektromagnetik yang dapat mempengaruhi tubuh. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak disarankan untuk terpapar radiasi elektromagnetik dalam jangka waktu lama. Akibatnya perkembangan kogintif anak berjalan lambat, susah berkonsentrasi dan akibat negatif lainnya. Padahal semestinya usia anak-anak adalah usia untuk mengeksplor seluruh bakat psikomotorik yang dimilikinya, seperti menggambar, bernyanyi, bermain bersama rekan sebaya dan kegiatan lainnya.
Saat melakukan aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah sekaligus. Seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan sosialnya. Kesulitan beradaptasi dengan materi pelajaran.
Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gadget menyajikan interaksi multimedia yang memikat. Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di depan layar gadget. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget akan menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung statis. Apalagi kebiasan dengan memelototi layar gadget yang warna warni dan dinamis, kemudian di sekolah hanya menghadapi, nuansa hitam-putih (papan tulis) saja...hahaha...**
Saat melakukan aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah sekaligus. Seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan sosialnya. Kesulitan beradaptasi dengan materi pelajaran.
Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gadget menyajikan interaksi multimedia yang memikat. Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di depan layar gadget. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget akan menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung statis. Apalagi kebiasan dengan memelototi layar gadget yang warna warni dan dinamis, kemudian di sekolah hanya menghadapi, nuansa hitam-putih (papan tulis) saja...hahaha...**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar